Leler, Banyumas, 19 Februari 2026 — Atmosfer akademik Ramadhan di Ma’had Aly Andalusia terasa lebih semarak. Ratusan mahasantri mengikuti kajian intensif kitab Madarikul Maram fi Masalikis Shiyam bersama Syekh Mahmud Ali Yasin, dosen utusan resmi dari Universitas Al-Azhar, Mesir.
Syekh Mahmud mulai mengajar di Ma’had Aly Andalusia sejak akhir 2025 sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik internasional lembaga tersebut. Memasuki Ramadhan 1447 H/2026 M, beliau secara khusus mengisi rangkaian Kajian Ramadhan dengan pembacaan dan pendalaman kitab Madarikul Maram fi Masalikis Shiyam, sebuah karya yang mengulas dimensi fikih dan spiritualitas puasa.
Kajian perdana dilaksanakan usai salat tarawih di Aula Putri Pondok At-Taujieh 2 Andalusia. Dalam pembukaannya, Syekh Mahmud menekankan pentingnya memahami fondasi pemikiran penulis sebelum masuk pada pembahasan inti.
قبل قراءة الكتاب، لا بد أن نقرأ من مقدمة الكتاب
“Sebelum membaca isi kitab, kita perlu mendahuluinya dengan muqaddimah (pendahuluan) kitab.”
Muqaddimah tersebut memuat pengantar dari Syekh Nadzir Muhammad ‘Iyad yang menegaskan bahwa puasa Ramadan merupakan salah satu kewajiban syariat paling utama. Puasa, menurutnya, bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan latihan jiwa, perbaikan tabiat, pendidikan raga, penyucian akal, dan peningkatan ruhani.
Melalui komitmen menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seorang hamba ditempa untuk disiplin terhadap waktu dan aturan. Ia tidak makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dari rasa lapar dan dahaga itulah, hati menjadi lebih peka terhadap hidayah dan lebih jauh dari keburukan.
Dalam sesi penjelasan, Syekh Mahmud juga mengutip hadis qudsi tentang keutamaan puasa:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ia menegaskan bahwa redaksi hadis tersebut menunjukkan kemuliaan puasa sebagai ibadah yang memiliki dimensi keikhlasan paling dalam, karena sifatnya yang tersembunyi dan sulit diukur secara kasatmata.
Menjelang penutupan kajian, Syekh Mahmud mengulas klasifikasi ibadah dalam perspektif fikih. Ia membaginya menjadi dua: ibadah mali (yang berkaitan dengan harta) dan ibadah badani (yang berkaitan dengan fisik):
إن عبادة المالي أفضل من عبادة البدني لأنه متعد
“Sesungguhnya ibadah harta lebih utama daripada ibadah fisik karena manfaatnya bersifat muta‘addi (meluas kepada orang lain).”
Penjelasan tersebut memantik diskusi reflektif di kalangan mahasantri mengenai pentingnya keseimbangan antara dimensi spiritual personal dan kontribusi sosial dalam beribadah.
Kajian Madarikul Maram ini dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan Ramadhan sebagai bagian dari program penguatan literasi turats dan pendalaman fikih ibadah di lingkungan Ma’had Aly Andalusia. Kehadiran dosen utusan Al-Azhar diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan mahasantri, tetapi juga mempererat hubungan intelektual antara pesantren Indonesia dan pusat-pusat studi Islam di Timur Tengah.
Dengan pendekatan sistematis, bahasa Arab akademik yang fasih, serta penekanan pada kedalaman makna spiritual, kajian ini menjadi salah satu agenda unggulan Ramadhan 2026 di Banyumas—mengukuhkan Ma’had Aly Andalusia sebagai institusi pendidikan tinggi pesantren yang terus berjejaring global dan berkomitmen pada tradisi keilmuan yang otoritatif.



