Oleh: Dovan Khusnul Marom Lillahi zamzami
Abu Al-Aswad Ad-Duali, tokoh pelopor Ilmu Nawhu ini ternyata memiliki perjalanan karir di dunia politik. Tranformasi dari dunia perpolitikan sampai menjadi pelopor Ilmu Nahwu adalah perjalanan yang sangat menarik untuk kita bahas.
Lengkapnya Abu Al-Aswad Dzalam bin Amr bin Sufyan bin Jandal bin Yamar bin Hils bin Nufatha bin Al-Adi bin Al-Dil bin Bakr. Lahir pada masa Jahiliyah bertepatan dengan tahun 603 M. Beliau berasal dari Bani Kinanah bertempat di Bashrah dan dari sinilah beliau di juluki sebagai Ad-Duali karena beliau berasal dari Qabilah Du’al.
Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab RA, beliau pernah menjadi hakim di kota Bashrah. Terlihat jelas bahwa beliau adalah sosok yang aktif dalam kegiatan politik yang selalu berupaya untuk merangkul masyarakat dan memperjuangkan keadilan sosial di masyarakat sesuai ajaran syariat.
Di kota yang sama pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA, Abu Aswad di angkat sebagai gubernur Kota Bashrah menggantikan Abdullah bin Abbas RA. Sempat pula beliau menjadi juru runding perdamaian pada saat perang Jamal untuk memerangi kaum Khawarij.
Tak sampai disini bahkan sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Thalib RA, beliau masih mengemban amanah sebagai gubernur Kota Bashrah di saat tampuk kekuasaan berada di tangan Sahabat Muawiyah RA.
Pada zaman Jahiliyyah Bahasa Arab tumbuh dari kebiasaan orang orang Arab ketika berucap, dan berkomunikasi. Disitulah muncul kaidah kaidah Bahasa Arab yang secara tidak langsung di turunkan secara turun temurun. Junior belajar dengan senior, anak belajar dengan orang tuanya. Sampai pada masa penaklukan Persia dan Romawi, pernikahan antara orang Arab dan non-Arab dan perdagangan di penjuru negri tidak bisa di pungkiri. Percampuran bahasa Arab dengan non-Arab yang telah merusak kefasihan dan menodai keindahan keindahan Bahasa Arab.
Hal ini mendorong naluri orang orang Arab untuk menetapkan dan menyusun kaidah-kaidah bahasa secara terstuktur dari lisan orang orang Arab yang masih fasih, dari sini lah awal mula perjalanan Abu Aswad memelopori Ilmu Nawhu.
Kisah nya berawal dari pengalaman beliau sendiri bersama putrinya, ketika sedang berjalan-jalan dengan putrinya pada malam hari, lalu sang anak menghadapkan wajahnya ke langit dan menyaksikan betapa indahnya benda-benda yang dilihatnya berupa bintang-bintang. Kemudian mengungkapkan perasaan kagumnya dengan perkataan “ما احسن السماء” (apakah yang paling indah di langit?) tanpa menyadari bahwa dengan mengkasrah huruf hamzah berarti menunjukkan kalimat tanya. Sehingga Abu Aswad sebagai sang ayah menjawab “نجومها يا بنية” (bintang-bintangnya, anakku). Namun putrinya menyanggah dengan mengatakan “إنما اردت التعجب” (hanya ingin mengungkapkan kekaguman). Maka Abu Aswad mengatakan “ما احسن السماء” (betapa indahnya langit) dengan memfathah huruf hamzah.
Pada pagi hari, Abu Aswad menghadap Ali bin Abi Tholib RA sebagai khalifah dan melaporkan kepadanya percakapan yang terjadi dengan putrinya, intinya sesuatu yang tidak dipahaminya. Imam Ali berkata; Ini adalah akibat bercampurnya Bahasa Ajam (non Arab) dan Bahasa Arab. Khalifah memerintahkan Abu Aswad untuk membuat aturan bahasa. Abul Aswad lalu membeli sehelai kertas dan setelah beberapa hari beliau menulis di atasnya pembagian kalimat yang terdiri dari tiga bagian, yaitu isim, fi’l dan huruf serta ditambah ta’ajjub kemudian tulisan itu disodorkan pada Imam Ali. Lalu Imam Ali berkata: Inha nahwa haadza (buatkan contoh seperti ini), karena itulah ilmu ini dinamakan “Ilmu Nahwu”.
Dikisahkan pula bahwa ketika Abu Aswad melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, mendengar qari’ membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan bacaan ان الله بریئ من المشركین ورسوله Dengan mengkasrah huruf lam pada kata rasulihi, artinya “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya”. Hal ini jelas sangat merusak makna ayat tersebut dan menyesatkan. Seharusnya huruf tersebut dibaca fathah, artinya “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orangorang musyrik”. Karena mendengar perkataan ini, Abu Aswad Duali menjadi khawatir kalau keindahan bahasa Arab menjadi rusak dan keasliannya menjadi hilang, apalagi hal tersebut terjadi di awal mula daulah islamiyah. Hal ini disadari oleh khalifah Ali bin Abi Thalib, sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idafah (penyandaran), kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Aswad أنح هذا النحو “Ikutilah jalan ini”. Dari kalimat inilah, ilmu tentang kaidah bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu. (Arti nahwu secara bahasa adalah arah). Lalu hal ini mendorong Abu Aswad berfikir untuk meletakkan kaidah-kaidah nahwu.
Abu Al-Aswad Ad-Duali wafat di Bashrah pada tahun 69 H/688 M. Beliau terserang wabah ta’un. Saat itu usianya 80 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau wafat di masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Dan kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz dimulai pada bulan Shafar 99 H – Rajab 101 H.
Abu Al-Aswad Ad-Duali adalah tokoh besar yang memulai kiprahnya di dunia politik sebelum akhirnya menjadi pelopor ilmu nahwu, ilmu yang merumuskan kaidah bahasa Arab. Lahir di masa Jahiliyah dan aktif dalam pemerintahan pada era Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, ia pernah menjabat sebagai hakim dan gubernur di Bashrah.
Transformasi perannya dimulai saat ia menyadari pentingnya menjaga keindahan bahasa Arab yang mulai bercampur dengan bahasa asing akibat interaksi lintas budaya. Kisahnya bersama putrinya yang keliru mengucapkan kalimat tanya mendorongnya untuk menyusun aturan-aturan bahasa. Atas perintah Khalifah Shohabat Ali RA, ia menetapkan kaidah nahwu demi melestarikan kemurnian bahasa Arab.
Keberhasilan Abu Al-Aswad menunjukkan bahwa ketajaman berpikir dalam bahasa berperan penting dalam menjaga kekayaan budaya, bahkan memengaruhi stabilitas dan komunikasi sosial. Dengan dedikasinya, ia mengokohkan posisi ilmu nahwu sebagai landasan penting bagi umat Islam.
Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat memengaruhi dua bidang yang berbeda, politik dan linguistik. Perjalanannya dari seorang politikus yang aktif menjadi ahli nahwu menunjukkan bahwa pemahaman bahasa yang baik adalah kunci untuk komunikasi yang efektif dan penyampaian pesan yang jelas dalam berbagai konteks.



