Ilmu tidak selalu dimulai dari halaman pertama sebuah kitab. Kadang-kadang, ia bermula dari ingatan tentang seorang guru, dari sebuah cerita yang disampaikan di sela-sela pertemuan, atau dari pertanyaan sederhana tentang bagaimana seseorang sampai pada pengetahuan yang dimilikinya hari ini.
Suasana itulah yang terasa dalam dauroh ilmiah bersama Syekh Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Ahmad Hijazi di Ma’had Aly Andalusia, Leler, Banyumas, Sabtu (17/10/2026). Sehari setelah tiba di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, guru besar Universitas Al-Azhar Kairo tersebut membersamai para mahasantri di Gedung Zawiyah lantai satu untuk mengkaji kitab Husnush Shiyāghah Syarah Durūs al-Balāghah. Namun, pertemuan itu tidak berhenti pada pembahasan ilmu balaghah. Di dalamnya, ada cerita tentang guru, pengalaman belajar, dan nasihat yang mengingatkan kembali pada hakikat menuntut ilmu.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, KH. Zuhrul Anam Hisyam, bercerita tentang salah seorang gurunya, Syekh Mahmud asy-Syirbini, yang berasal dari Cirebon. Kehadiran Ustaz Humaidi, pendamping Syekh Fathi yang juga berasal dari daerah tersebut, membawanya kembali pada sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan keilmuannya. Dari ingatan tentang sang guru, KH. Zuhrul Anam mengutip syair tentang Alfiyah Ibnu Malik.
«بِكْرٌ شَرِيفَةٌ يَخَافُ مِنْ دَنِيٍّ
وَمَنْ أَتَى بِشَرْطِهَا نَالَ الْمُنَى
مُهْدِيَةٌ لِمَنْ يَفُوقُ عَقْلُهُ
وَرَقَّ جَنْبُهُ وَجَفَّتْ عَيْنُهُ»
“Alfiyah ibarat seorang gadis mulia yang dijauhi oleh orang yang tidak pantas mendekatinya. Barang siapa mempelajarinya dengan memenuhi syarat-syaratnya, ia akan meraih cita-cita. Kitab itu diperuntukkan bagi orang yang unggul akalnya, tipis perutnya, dan kering matanya.”
Syair tersebut menyimpan gambaran tentang hubungan antara ilmu dan pengorbanan. Alfiyah tidak digambarkan sebagai kitab yang dapat ditaklukkan hanya dengan keinginan sesaat. Ia menuntut kesungguhan, ketajaman berpikir, dan ketekunan untuk terus mengulang. Perut yang tipis dan mata yang kering menjadi kiasan tentang kesederhanaan hidup serta waktu istirahat yang rela dikurangi demi belajar.
Barangkali, di situlah salah satu hal penting dalam tradisi keilmuan pesantren: pengetahuan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dihafal, tetapi juga dari proses panjang yang membentuk orang yang mempelajarinya.
Syekh Fathi kemudian membagikan kisah tentang gurunya sendiri. Guru tersebut, menurut ceritanya, bertubuh pendek, tetapi memiliki kemampuan keilmuan yang luar biasa. Kisah itu mengundang tanggapan dari KH. Zuhrul Anam yang menyebut nama salah seorang mahasantri, Imdad, sebagai sosok yang mengingatkannya pada cerita tersebut.
«لَدَيْنَا مِثْلُ هَذِهِ الْقِصَّةِ، اسْمُهُ إِمْدَادٌ»
“Kami juga memiliki kisah serupa. Namanya Imdad.”
Gelak tawa pun terdengar di antara para hadirin. Percakapan itu menghadirkan suasana akrab di tengah forum ilmiah. Namun, ada satu hal yang tetap tinggal di balik kelucuan tersebut: penampilan fisik bukan ukuran keluasan pengetahuan. Seseorang dapat saja terlihat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman ilmu yang tidak segera terbaca dari penampilannya.
Cerita tentang guru itu kemudian beralih menjadi nasihat bagi para mahasantri. Syekh Fathi mengingatkan pentingnya menghadirkan hati ketika mengikuti pelajaran. Setiap pelajaran, tuturnya, memiliki sirr atau rahasia tersendiri. Untuk menemukannya, seorang pelajar tidak cukup hanya duduk di dalam majelis. Ia perlu menyimak, memberi perhatian, dan membuka diri terhadap pengetahuan yang sedang disampaikan.
Ia juga berpesan agar para santri tetap membaca meskipun belum sepenuhnya memahami isi bacaan. Nasihat ini terdengar sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang kerap dihadapi pelajar: keinginan untuk segera mengerti. Padahal, pemahaman tidak selalu hadir pada pembacaan pertama. Ada kalanya seseorang harus kembali membaca halaman yang sama, mengulang penjelasan, dan menunda kesimpulan sampai makna yang dicari mulai terbuka.
Dalam konteks itu, Syekh Fathi menyampaikan tiga unsur yang dibutuhkan untuk memperoleh ilmu: guru yang menjelaskan, murid yang mendengarkan, dan kitab yang menghimpun pengetahuan.
«العِلْمُ يَحْتَاجُ إِلَى ثَلَاثَةِ أُمُورٍ: عَالِمٌ يَشْرَحُ، وَطَالِبٌ يَسْمَعُ، وَكُتُبٌ تَجْمَعُ»
“Ilmu membutuhkan tiga perkara: seorang guru yang menjelaskan, seorang murid yang mendengarkan, dan kitab-kitab yang menghimpun ilmu.”
Ketiga unsur itu membentuk hubungan yang saling melengkapi. Guru menyampaikan pengetahuan berdasarkan apa yang telah dipelajarinya. Murid mendengarkan, menelaah, dan berusaha memahami. Sementara itu, kitab menyediakan ruang bagi pengetahuan untuk dibaca kembali, diperiksa, dan dipelajari lebih dalam. Tanpa kesungguhan murid, penjelasan dapat berlalu begitu saja. Tanpa bimbingan yang memadai, bacaan dapat menyisakan kebingungan. Dan tanpa ketekunan merujuk kitab, pengetahuan sulit dikembangkan secara mendalam.
Nasihat tentang kesungguhan belajar kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah momen kecil ketika pembacaan kitab dimulai. Syekh Fathi meminta salah seorang mahasantri untuk membaca dengan memanggil, “Iqra, ya Muhammad.” Para mahasantri di barisan depan pun saling menoleh, mencoba memastikan siapa yang dimaksud. Sesaat kemudian, putranya, Syekh Mahmud Hijazi, menyusuli dengan menyebut nama, “Iqra, ya Mujib.”
Mujib, mahasantri yang akhirnya mendapat giliran membaca, mengaku terkejut ketika menyadari bahwa dirinya yang dipanggil.
“Jujur, saya kaget ketika diminta membaca tadi. Awalnya Syekh Fathi mengatakan, ‘Iqra, ya Muhammad.’ Teman-teman di barisan depan langsung saling menoleh, mencari tahu siapa yang dimaksud. Kemudian Syekh Mahmud Hijazi menyusuli dengan mengatakan, ‘Iqra, ya Mujib.’ Saya langsung kaget karena ternyata saya yang diminta membaca. Alhamdulillah, tadi bisa membaca dengan lancar,” tutur Mujib.
Momen itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Mujib. Di tengah dauroh yang membahas kitab balaghah, ia mendapat kesempatan membaca langsung di hadapan Syekh Fathi. Sebuah pengalaman sederhana yang mempertemukan proses belajar sehari-hari dengan kesempatan untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari.
Pada akhirnya, dauroh Husnush Shiyāghah Syarah Durūs al-Balāghah di Ma’had Aly Andalusia memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan. Ada teks yang perlu dipahami, guru yang membimbing, murid yang berusaha, serta tradisi keilmuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pembahasan balaghah menjadi ruang untuk mempelajari bahasa, sementara cerita dan nasihat yang menyertainya mengingatkan para mahasantri tentang sikap yang perlu dijaga dalam perjalanan belajar.
Ilmu tidak tumbuh hanya karena seseorang berada di dekat kitab atau duduk di hadapan seorang guru. Ia juga membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, ketekunan untuk terus membaca meski belum memahami, dan kerendahan hati untuk menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Sebab, perjalanan seorang penuntut ilmu bukan tentang merasa telah sampai, melainkan tentang menjaga kesediaan untuk terus belajar.
GALERI






Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalsitik.com



