Benarkah Taqdim dalam Surat Fatir Ayat 28 Mengandung Makna Hasr?

maalyandalusia.ac.id

Susunan kalimat dalam Al-Qur’an tidak hanya memiliki fungsi gramatikal, tetapi juga menyimpan ketelitian makna yang menjadi pembahasan penting dalam ilmu balaghah. Salah satunya terdapat dalam Surat Fatir ayat 28:

«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»

Artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Pada ayat tersebut terdapat susunan yang menarik perhatian dalam kajian ilmu ma‘ani. Lafal اللَّهَ berkedudukan sebagai maf‘ul bih (objek), sementara الْعُلَمَاءُ berkedudukan sebagai fa‘il (subjek). Namun, objek tersebut didahulukan sebelum subjeknya dalam susunan يَخْشَى اللَّهَ … الْعُلَمَاءُ.

Di sisi lain, ayat tersebut diawali dengan إِنَّمَا, salah satu adat qasr (pembatasan). Dari sini muncul persoalan: apakah taqdim al-maf‘ul bihi dalam ayat tersebut juga memberikan faedah hasr atau pembatasan, meskipun sebelumnya sudah terdapat إِنَّمَا?

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum Musyawarah Kebahasaan Al-Qur’an pada Kegiatan Mauqufah Ma’had Aly Andalusia, 14 September 2026.

Apakah Setiap Taqdim Berarti Hasr?

Di sinilah pembahasan kemudian masuk pada kaidah umum dalam ilmu ma‘ani.

Dalam Jawahir al-Balaghah fi al-Ma‘ani wa al-Bayan wa al-Badi‘ karya Ahmad al-Hasyimi dijelaskan bahwa metode qasr terdiri atas beberapa bentuk. Salah satunya adalah taqdim, tetapi berbeda dengan tiga bentuk lainnya karena faedah qasr pada taqdim tidak selalu ditentukan secara langsung oleh perangkat bahasa.

Berikut keterangan yang menjadi rujukan dalam Mauqufah:

«ملاحظات
أوّلا – يشترط في كلٍّ من «بل – ولكن» أن تُسبق بنفي، أو: نهي وأن يكون المعطوف بهما مفردًا، وألاَّ تقترن (لكن) بالواو.
ثانيًا – يشترط في «لا» إفراد معطوفها، وان تُسبق بإثبات، وألاّ يكون ما بعدها داخلا في عموم ما قبلها.
ثالثًا – يكون للقصر (بإنما) مزيَّة على العطف، لأنها تفيد الاثبات للشيء، والنفي عن غيره دفعة واحدة، بخلاف العطف، فانه يفهم منه الاثبات أوّلا، ثم النفي ثانيًا – أو عكسه.
رابعًا – التقديم: يَدُلّ على القصر بطريق الذَّوق السليم، والفكر الصائب، بخلاف الثلاثة الباقية فتدل على القصر بالوضع اللغوي (الأدوات) .
خامسًا – الأصلُ أن يتأخر المعمول عن عامله إلا لضرورة ومَن يتتبع أساليب البلغاء في تقديم ما حقُّه التأخير: يجد أنهم يريدون بذلك: التخصيص.»

Keterangan tersebut memberikan kaidah penting: taqdim dapat menunjukkan qasr melalui الذوق السليم والفكر الصائب atau cita rasa kebahasaan yang tepat dan pertimbangan yang benar.

Artinya, tidak setiap kata yang didahulukan dari posisi asalnya secara otomatis menghasilkan makna qasr. Makna yang lahir dari taqdim perlu dilihat berdasarkan konteks, hubungan antarunsur kalimat, dan maksud pembicaraan. Dengan kata lain, faedah hasr pada taqdim bukanlah konsekuensi otomatis yang selalu berlaku menurut kaidah balaghah, melainkan ditentukan melalui konteks serta analisis ulama atau ahli balaghah yang dirujuk.

Karena itu, taqdim memiliki karakter yang berbeda dari إِنَّمَا, yang secara langsung merupakan perangkat qasr dalam struktur bahasa.

Pendapat Ulama tentang Taqdim dalam Ayat

Pembahasan mengenai taqdim juga ditemukan dalam Tuhfatul Ahwadzi karya Abdurrahman al-Mubarakfuri. Dalam menjelaskan penggunaan maf‘ul yang didahulukan, disebutkan:

«(مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ) بِنَصْبِ الْفَقْرِ أَيْ مَا أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْفَقْرَ وَيَجُوزُ الرَّفْعُ بِتَقْدِيرِ ضَمِيرٍ أَيْ مَا الْفَقْرُ أَخْشَاهُ عَلَيْكُمْ وَالْأَوَّلُ هُوَ الرَّاجِحُ وَخَصَّ بَعْضُهُمْ جَوَازَ ذَلِكَ بِالشِّعْرِ وَقَالَ الطِّيبِيُّ فَائِدَةُ تَقْدِيمِ الْمَفْعُولِ هُنَا الِاهْتِمَامُ بِشَأْنِ الْفَقْرِ»

Referensi tersebut menunjukkan bahwa taqdim al-maf‘ul pada suatu susunan tidak selalu harus dipahami dengan satu fungsi yang sama. Dalam contoh yang dibahas, al-Tiby menyebutkan bahwa faedah mendahulukan objek adalah الاهتمام بشأن الفقر, yakni memberikan perhatian terhadap perkara yang disebutkan terlebih dahulu.

Namun, dalam konteks ayat Surat Fatir ayat 28, referensi lain memberikan penjelasan yang lebih khusus.

Dalam Tafsir Hada’iq ar-Ruh wa ar-Raihan fi Rawabi ‘Ulum al-Qur’an karya Muhammad al-Amin al-Harari disebutkan:

«وقوله: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾ إِنَّمَا: أداة حصر، ﴿يَخْشَى اللَّهَ﴾: فعل ومفعول به مقدم على فاعله لإفادة الحصر، ﴿مِنْ عِبَادِهِ﴾: حال من ﴿الْعُلَمَاءُ﴾، و﴿الْعُلَمَاءُ﴾: فاعل، والجملة الفعلية مستأنفة، ﴿إِنَّ اللَّهَ﴾: ناصب واسمه، ﴿عَزِيزٌ﴾: خبر أول له، ﴿غَفُورٌ﴾: خبر ثانٍ، والجملة مستأنفة.»

Dalam penjelasan tersebut, didahulukannya اللَّهَ sebagai maf‘ul bih sebelum الْعُلَمَاءُ sebagai fa‘il disebut memiliki faedah hasr.

Penjelasan serupa juga ditemukan dalam Tafsir al-Baidhawi:

«إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ إذ شرط الخشية معرفة المخشي والعلم بصفاته وأفعاله، ف‍‍من كان أعلم به كان أخشى من‍‍ه ولذلك
قال عليه الصلاة والسلام «إني أخشاكم لله وأتقاكم له» ولذلك أتبعه بذكر أفعاله الدالة على كمال قدرته، وتقديم المفعول لأن المقصود حصر الفاعلية ولو أخر انعكس الأمر.»

Al-Baidhawi menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah berkaitan dengan pengetahuan seseorang terhadap Dzat yang ditakuti beserta sifat dan perbuatan-Nya. Semakin seseorang mengetahui Allah, semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya.

Dalam konteks susunan ayat, al-Baidhawi juga menjelaskan bahwa taqdim al-maf‘ul dimaksudkan untuk menunjukkan pembatasan pada sisi pelaku. Jika objek tersebut diakhirkan, maka arah pembatasannya dapat berubah.

Dengan demikian, taqdim dalam ayat ini tidak sekadar dipandang sebagai persoalan urutan kata, tetapi juga memiliki fungsi maknawi dalam menunjukkan pembatasan.

Dua Perangkat Balaghah dalam Satu Ayat

Secara sederhana, terdapat dua sisi yang menjadi perhatian dalam ayat ini. Pertama, penggunaan إِنَّمَا yang secara bahasa berfungsi sebagai adat qasr. Kedua, adanya taqdim al-maf‘ul bihi, yakni didahulukannya lafal اللَّهَ yang secara posisi merupakan objek dari kata يَخْشَى.

Dalam pembahasan yang muncul, terdapat pandangan yang memahami bahwa kedua perangkat tersebut sama-sama memiliki faedah hasr. Dengan demikian, إِنَّمَا memberikan pembatasan pada pihak yang memiliki rasa takut kepada Allah, sedangkan taqdim al-maf‘ul bihi memberikan pembatasan pada objek yang menjadi tujuan rasa takut tersebut.

Pembahasan ini kemudian dikuatkan dengan sejumlah referensi tafsir, syarah hadis, dan kitab balaghah.

Hasil Mauqufah Ma’had Aly Andalusia

Jika kaidah tersebut diterapkan pada ayat:

«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»

maka terdapat dua unsur yang menjadi perhatian: إِنَّمَا dan taqdim pada اللَّهَ.

Hasil pembahasan Mauqufah menetapkan bahwa keduanya sama-sama mempunyai faedah hasr.

إِنَّمَا memberikan pembatasan bahwa orang yang memiliki rasa takut kepada Allah adalah para ulama. Sementara itu, taqdim al-maf‘ul bihi pada lafaz اللَّهَ memberikan pembatasan bahwa rasa takut tersebut ditujukan kepada Allah.

Dengan demikian, dalam hasil Mauqufah ini, keberadaan إِنَّمَا tidak membuat taqdim al-maf‘ul bihi kehilangan faedah balaghahnya. Kesimpulan tersebut merupakan hasil penerapan analisis terhadap konteks ayat dan penjelasan ulama yang dijadikan rujukan, bukan karena setiap taqdim secara otomatis bermakna hasr.

Berdasarkan pembahasan dan referensi yang digunakan dalam Musyawarah Kebahasaan Al-Qur’an, taqdim al-maf‘ul bihi yang terdapat dalam Surat Fatir ayat 28 tetap memiliki faedah hasr, meskipun dalam ayat yang sama telah terdapat adat qasr berupa إِنَّمَا.

Dengan demikian, hasil Mauqufah menyimpulkan:

Sama-sama mempunyai faedah hasr, di mana إِنَّمَا membatasi rasa takut hanya milik ulama, sedangkan mendahulukan maf‘ul membatasi bahwa rasa takut tersebut hanya ditujukan kepada Allah. Faedah hasr pada taqdim dalam kesimpulan ini tidak dipahami sebagai kaidah otomatis yang berlaku pada setiap susunan, tetapi sebagai hasil analisis terhadap konteks ayat dan pendapat ulama yang dirujuk.

Pembahasan ini sekaligus menunjukkan bahwa memahami susunan ayat Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan melihat posisi i‘rab setiap lafaz. Perubahan susunan kata juga dapat membawa konsekuensi makna yang lebih dalam, terutama ketika dikaji melalui perspektif ilmu ma‘ani dan balaghah.

Wallahu a‘lam.


Mushohih:

  • Ust. Abdulloh Shofi
  • Ust. Minanur Rouf

Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalsitik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *