Sabtu pagi di Ma’had Aly Andalusia berjalan seperti Sabtu pagi pada umumnya. Jam pertama diisi perkuliahan Al-Qur’an. Kitab Zubdatul Itqon fi Ulumil Qur’an terbuka di atas meja, sampai pada halaman 170. Di depan kelas, Ustaz Wahib sedang menjelaskan materi hasr dan ikhtishash. Pembahasan berjalan seperti biasa, dari satu penjelasan ke penjelasan berikutnya. Hanya saja, ada satu hal yang pagi itu tidak berjalan seperti biasa, mata salah seorang mahasantri mulai sulit diajak bekerja sama.
Malam sebelumnya memang diisi dengan begadang. Akibatnya baru terasa ketika jam pertama dimulai. Awalnya masih bisa dilawan. Mata dibuka lebih lebar, posisi duduk diperbaiki, berusaha tetap mengikuti suara dari depan. Tetapi lama-lama kelopak mata seperti punya kehendak sendiri. Sedikit demi sedikit mulai terpejam. Dalam bahasa Jawa, keadaan semacam itu biasa disebut ngliyep: mata mulai berat, kelopak turun pelan-pelan, tetapi kesadaran belum benar-benar pergi. Sampai pada titik ketika suara di depan kelas masih terdengar, tetapi tidak semua kalimat berhasil masuk ke kepala.
Padahal, beberapa teman sudah sering mengingatkan: jangan sampai tidur ketika Ustaz Wahib mengajar. “Eman.” Sayang kalau terlewat. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memang ada alasannya. Ustaz Wahib merupakan alumni Lirboyo yang biasa mengampu pelajaran Al-Qur’an dan tafsir di Ma’had Aly Andalusia. Cara beliau menjelaskan membuat satu ayat kadang bisa dibicarakan cukup lama. Pembahasan tidak selalu tinggal di dalam kitab. Ada saja kaitannya dengan persoalan lain, pengalaman, atau hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, sebelum akhirnya kembali lagi ke ayat yang sedang dibahas. Satu pertemuan bahkan bisa hanya membahas satu ayat. Karena itu, sebagian mahasantri menjulukinya “Al-Qur’an berjalan”.
Tetapi pengetahuan tentang semua itu rupanya belum cukup kuat untuk mengalahkan kantuk. Mata kembali terpejam. Sampai tiba-tiba terdengar satu kalimat yang membuat kesadaran seperti ditarik kembali ke dalam kelas: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ. Mata langsung terbuka. Ustaz Wahib sedang memberikan contoh hasr dan ikhtishash dari QS Ali ‘Imran ayat 144. Dari susunan ayat tersebut beliau menjelaskan makna hasr. Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang rasul yang juga akan mengalami kematian. Kepergian seorang rasul tidak berarti ajaran yang dibawanya ikut berakhir. Ayat itu juga mengingatkan agar wafatnya Rasul tidak membuat orang-orang yang mengikutinya berbalik meninggalkan jalan yang telah dibawanya.
Pembahasan kemudian bergerak kepada sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, ketokohan. Sekitar 2014, Ustaz Wahib bercerita tentang pengalamannya ketika berada di Lirboyo. Saat Kiai Idris wafat pada siang hari, selepas Magrib kegiatan mengaji kembali berjalan. Tidak ada kata libur hanya karena seorang kiai telah wafat. Kitab kembali dibuka, pengajian kembali berlangsung. Sistem yang sudah berjalan tidak ikut berhenti bersama kepergian tokohnya. Dari pengalaman itu muncul satu pelajaran, sebuah kelompok yang terlalu bergantung kepada tokoh akan kesulitan ketika tokoh tersebut sudah tidak ada. Sebaliknya, sistem yang sudah dibangun membuat kegiatan tetap berjalan meskipun orang yang selama ini menjadi pusat perhatian telah pergi.
Di titik itu, ingatan kemudian sampai pada sebuah maqolah yang sering disampaikan Abah الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِالنِّظَامِ. “Kebenaran yang tidak dikelola dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang dikelola dengan baik.” Pesannya bukan tentang menjadikan sesuatu yang buruk sebagai sesuatu yang benar. Ada hal yang lebih sederhana di dalamnya: sesuatu yang baik tetap membutuhkan sistem yang baik agar bisa bertahan. Sebuah pondok mungkin bisa sangat bersih karena ada kiai yang mengontrol, kegiatan berjalan disiplin karena ada sosok yang mengawasi, dan aturan ditaati karena ada figur yang selalu mengingatkan. Tetapi ketika sosok itu tidak ada, lalu semuanya ikut berhenti, mungkin yang selama ini bekerja bukan sistem, melainkan ketokohan.
Barangkali persoalannya memang ada di sana. Kebiasaan baik seharusnya tidak hanya hidup ketika ada orang yang melihat. Bersih-bersih tetap berjalan meskipun tidak ada kiai yang mengawasi. Kegiatan tetap disiplin meskipun tidak ada sosok yang menegur. Peraturan tetap ditaati meskipun tidak ada figur yang ditakuti. Sebab ukuran sebuah sistem bukan hanya ketika semuanya berjalan dalam pengawasan, tetapi ketika sesuatu tetap berjalan setelah pengawasan itu tidak ada.
Pagi itu, pembahasan yang bermula dari hasr dan ikhtishash ternyata berjalan jauh dari halaman 170. Satu ayat membawa kami kepada wafatnya Rasul, pengalaman Ustaz Wahib di Lirboyo, ketokohan, hingga pentingnya sebuah sistem. Barangkali di situlah menariknya belajar Al-Qur’an bersama guru yang punya ruang improvisasi yang luas, satu ayat tidak selalu selesai ketika halaman ditutup. Kadang ia ikut berjalan pulang bersama kita. Dan untuk mahasantri yang pagi itu hampir kalah oleh kantuk, satu kalimat وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ akhirnya menjadi alasan untuk kembali membuka mata. Ternyata teman-teman benar, eman kalau tidur di jam beliau.
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalsitik.com



