BANYUMAS — Satu tahun akhirnya sampai pada titik yang sejak awal pasti akan datang, pergantian amanah. Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Andalusia Kabinet Al-Iqtishod resmi mengakhiri masa khidmah periode 2025–2026 pada Selasa, 11 Agustus 2026. Demisioner tersebut menjadi penanda berakhirnya satu periode kepengurusan di bawah kepemimpinan Khazmi Manatul Akhyar sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai program, pembaruan, capaian, serta catatan yang ditinggalkan bagi keberlanjutan kehidupan kemahasantrian.
Nama Al-Iqtishod sendiri berangkat dari kata الاقتصاد yang secara etimologis mengandung makna moderat, efisien, dan tidak berlebihan. Nilai tersebut sejak awal diharapkan menjadi landasan bagi kabinet dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab: bekerja secara sederhana, efektif, dan proporsional. Sebab, sesuatu yang berlebihan mudah membawa pada ketidakseimbangan, sementara organisasi membutuhkan kemampuan untuk menempatkan tenaga, waktu, dan gagasan sesuai kebutuhan. Dalam perjalanan satu tahun, filosofi tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam berbagai ikhtiar yang dilakukan, sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus selesai dengan sempurna untuk dapat meninggalkan sesuatu yang berarti.
Kabinet Al-Iqtishod resmi dilantik pada Rabu, 30 Juli 2025 dalam rangkaian Stadium General Ma’had Aly Andalusia. Pelantikan tersebut menandai dimulainya babak baru kepemimpinan DEMA dengan Khazmi Manatul Akhyar sebagai Ketua DEMA terpilih. Sejak awal, kabinet ini membawa visi “Menjadikan DEMA sebagai katalisator aktualisasi potensi mahasantri”, dengan misi membangun organisasi yang inklusif, menjadi ruang penyaluran aspirasi, menciptakan lingkungan diskusi dan literasi, serta meningkatkan kualitas Ma’had Aly secara komprehensif.

Dalam satu periode tersebut, Kabinet Al-Iqtishod menjalankan struktur yang terdiri atas lima kementerian, yakni Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), serta Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasantri (Adkesma). Periode ini juga meninggalkan dua Badan Semi Otonom (BSO), Abna Al-Lughoh dan Abna Al-Maktabah, sebagai bagian dari pengembangan kelembagaan DEMA. Abna Al-Lughoh diarahkan untuk mengawal pengembangan literatur dan lingkungan bahasa Arab, sedangkan Abna Al-Maktabah berperan dalam mendukung kebutuhan ruang belajar dan literasi di lingkungan Ma’had Aly.
Salah satu capaian yang dianggap penting dalam periode ini adalah terselenggaranya Milad Ma’had Aly Andalusia, yang sebelumnya belum pernah terlaksana. Bagi Kabinet Al-Iqtishod, penyelenggaraan milad bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang untuk membangun identitas, kebersamaan, sekaligus rasa memiliki terhadap Ma’had Aly sebagai ruang pendidikan tinggi pesantren.
Di bidang penguatan eksistensi Ma’had Aly di lingkungan pesantren, DEMA juga menjalin kerja sama dengan pihak pondok melalui program ilqo mufradat secara rutin di Aula Pusat. Sejumlah mahasantri yang memiliki kompetensi bahasa Arab diberi ruang untuk turut mengisi kegiatan tersebut. Program ini menjadi salah satu bentuk bagaimana kapasitas akademik mahasantri Ma’had Aly dapat hadir dan memberikan manfaat secara langsung kepada lingkungan pesantren. Dalam LPJ, program ilqo mufradat untuk santri putra tercatat terlaksana sebanyak 27 kali dari target 28 kali atau mencapai 96,42 persen.
Periode ini juga meninggalkan fasilitas mushohih bagi mahasantri putri dalam kegiatan musyawarah mauqufah. Meski baru dapat direalisasikan pada penghujung masa kepengurusan, keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap keberlanjutan tradisi akademik dan penguatan kualitas diskusi keilmuan mahasantri putri. Bagi kepengurusan Al-Iqtishod, apa yang telah dimulai tersebut diharapkan dapat menjadi hadiah bagi generasi berikutnya untuk diteruskan dan dikembangkan.
Selain program, salah satu perubahan yang terasa pada periode ini adalah mulai masuknya digitalisasi dalam tata kelola kemahasantrian. Sejumlah layanan yang sebelumnya berjalan secara konvensional mulai diarahkan ke sistem digital, di antaranya penggunaan QRIS dalam program Jumat Berkah serta digitalisasi teknis peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan. Pada tingkat internal organisasi, BPH juga mengembangkan sistem pengarsipan menggunakan Google Drive dan Google Spreadsheets untuk menjaga dokumen organisasi sekaligus membantu memantau perkembangan program kerja.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa teknologi mulai ditempatkan bukan sekadar sebagai instrumen publikasi, tetapi juga sebagai bagian dari pelayanan dan tata kelola organisasi. Di tengah kehidupan pesantren yang tetap bertumpu pada tradisi keilmuan, digitalisasi menjadi salah satu cara untuk membuat pekerjaan administratif lebih tertata, mudah diakses, dan berkelanjutan.
Di bidang komunikasi dan branding, periode ini juga ditandai dengan meningkatnya kolaborasi lintas kementerian. Salah satu program yang menonjol adalah produksi konten branding dan ilmiah yang melibatkan Kominfo bersama Kemenlu dan Kemendagri. Program tersebut ditargetkan delapan kali dalam satu periode dan berhasil terealisasi seluruhnya atau mencapai 100 persen. Konten tersebut diarahkan untuk memperkenalkan Ma’had Aly, potensi mahasantri, serta berbagai aktivitas akademik kepada khalayak yang lebih luas.
Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada produksi konten. Ia menjadi ruang bagi beberapa kementerian untuk bekerja bersama, mengenalkan potensi mahasantri, sekaligus membangun wajah Ma’had Aly di ruang digital. Kemendagri juga menjalankan program video branding seputar Ma’had Aly dan mahasantrinya yang terealisasi empat kali dari target empat kali atau mencapai 100 persen. Sementara Kominfo mencatat sepuluh produksi reels dan feed untuk berbagai agenda selama periode kepengurusan.
Upaya membawa nama Ma’had Aly ke ruang publik juga dilakukan melalui kegiatan yang menyasar masyarakat luas. Kemenlu menginisiasi event ilmiah berupa perlombaan untuk mengenalkan almamater Ma’had Aly Andalusia kepada masyarakat. Agenda tersebut kemudian dilengkapi dengan webinar edukasi daring yang membahas teknologi dan komunikasi bagi peserta lomba. Kegiatan yang berlangsung pada Oktober 2025 tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam menghadirkan ruang edukasi digital yang dapat diikuti tidak hanya oleh mahasantri, tetapi juga pelajar umum.
Di bidang pengembangan kepemimpinan, DEMA menyelenggarakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi pengurus. Selain itu, terdapat Stadium General, Class Meeting, mading, kegiatan bahasa Arab, hingga berbagai agenda internal yang menjadi ruang belajar dan memperkuat interaksi antarmahasantri. LDK tercatat terlaksana pada 12 Agustus 2025, sementara program mading mencapai delapan kali pelaksanaan atau 100 persen dari target.
Namun, perjalanan satu tahun tersebut tidak seluruhnya berjalan mulus. Dalam laporan pertanggungjawabannya, Kabinet Al-Iqtishod secara terbuka mengakui bahwa mereka belum mampu menjadi sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh penghuni Ma’had Aly Andalusia. Sejumlah program terlaksana kurang maksimal, sementara produktivitas dan inisiatif pengurus belum sepenuhnya merata. Meski demikian, lebih dari 80 persen pengurus disebut tetap aktif bekerja bersama, dan kekompakan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama kabinet.
Beberapa persoalan yang dicatat antara lain penurunan komitmen sebagian anggota, ketimpangan beban kerja, hambatan komunikasi, kurangnya budaya saling mengingatkan, keterbatasan waktu karena harus berbagi dengan muthala’ah dan waktu istirahat, partisipasi mahasantri yang fluktuatif, hingga belum meratanya rasa memiliki terhadap organisasi.
Kejujuran tersebut justru menjadi bagian penting dari refleksi akhir kepengurusan. Sebab, organisasi tidak hanya meninggalkan cerita tentang program yang berhasil. Ia juga menyisakan pekerjaan yang belum selesai, keputusan yang mungkin belum sempurna, komunikasi yang pernah tersendat, serta target yang belum tercapai. Semua itu menjadi bagian dari proses belajar yang kelak dapat digunakan oleh kepengurusan berikutnya.
Dalam konteks tersebut, filosofi Al-Iqtishod kembali menemukan relevansinya. Moderat bukan berarti tanpa kekurangan, sementara efisien bukan berarti selalu mencapai seluruh target. Ada kalanya sebuah kepengurusan harus belajar menerima batas kemampuan, mengukur kembali langkah, lalu menyerahkan pekerjaan yang belum selesai kepada generasi berikutnya. Sebab keberlanjutan organisasi tidak dibangun oleh satu periode saja.
Karena itu, LPJ Kabinet Al-Iqtishod tidak semata-mata menjadi dokumen administratif. Di dalamnya terdapat upaya untuk mempertanggungjawabkan amanah sekaligus mengakui kekurangan yang masih ada. Para pengurus juga menyampaikan terima kasih kepada Mudir, para dosen, dan seluruh mahasantri yang telah memberikan kepercayaan, dukungan, serta arahan selama satu periode.
Kini, setelah satu tahun berlalu, amanah tersebut resmi dikembalikan. Mereka datang pada Juli 2025 membawa nama kabinet, visi, program, dan harapan. Pada 11 Agustus 2026, semuanya sampai pada penghujung masa khidmah dan menjadi bagian dari sejarah organisasi yang akan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Bagi Khazmi Manatul Akhyar dan seluruh jajaran Kabinet Al-Iqtishod, satu tahun tersebut tentu bukan hanya tentang rapat, program kerja, dan laporan pertanggungjawaban. Ada waktu yang dikorbankan, malam yang terpotong dari waktu istirahat, gagasan yang tidak selalu menemukan jalan, perdebatan yang akhirnya melahirkan keputusan, hingga kebersamaan yang mungkin baru terasa nilainya ketika masa jabatan benar-benar berakhir.
DEMA menjadi ruang untuk belajar memberi dan menerima, bertumbuh, berproses, mengabdi, dan berkhidmat. Mereka mungkin tidak akan selamanya berada di dalamnya, tetapi pengalaman dan kebersamaan yang tumbuh selama satu periode akan menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.
Pada akhirnya, demisioner bukan sekadar tentang berakhirnya sebuah jabatan. Ia adalah tentang mengembalikan amanah setelah satu masa perjalanan, lalu memastikan bahwa ruang yang pernah ditempati masih memiliki sesuatu untuk diteruskan.
Kabinet Al-Iqtishod telah meninggalkan beberapa di antaranya: Milad Ma’had Aly, penguatan ilqo mufradat, mushohih mauqufah putri, digitalisasi layanan, penguatan branding, kolaborasi lintas kementerian, ruang kompetisi, webinar edukasi, serta berbagai pengalaman organisasi yang dapat menjadi pijakan bagi generasi setelahnya.
Mungkin kelak nama-nama dalam kabinet ini tidak lagi disebut setiap hari. Program-programnya pun perlahan akan berganti dengan program baru. Tetapi waktu yang pernah diberikan untuk mengurus Ma’had Aly tidak serta-merta hilang. Ia menjadi pengalaman, menjadi kenangan, dan dalam bentuk yang paling sederhana, menjadi jejak.
“Jabatan boleh selesai, program boleh berganti, dan orang-orang boleh berjalan ke arah masing-masing. Tetapi semoga apa yang pernah kalian kerjakan tetap menemukan jalannya untuk tumbuh di tangan mereka yang datang setelah kalian.”
Terima kasih, Kabinet Al-Iqtishod, atas satu tahun khidmah dengan segala capaian, kekurangan, tawa, lelah, dan pelajaran yang menyertainya. Selamat demisioner, Kabinet Al-Iqtishod 2025–2026.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Ma’had Aly Andalusia. Dan setelah semua kembali pada tempatnya, barangkali kita hanya perlu berkata, Sampai jumpa di ketidaksengajaan berikutnya.
SUSUNAN KEPENGURUSAN
ANGGOTA DEMA MA’HAD ALY ANDALUSA
Kabinet Al-Iqtishod
PERIODE 2025-2026 M/1446-1447 H.

- Badan Pengurus Harian (BPH)
- Ketua : Khazmi Manatul Akhyar
- Wakil Ketua : Sasmita Zuhrun Naja Haiba
- Sekretaris : Raihan Agustian
- Amanda Listiani
- Bendahara : Lukman Andri Saputra


2. Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI)
- Muhammad Ergi Favaliansyah (Koordinator)
- Hamid Mustofa
- Ihsanul Kamal
- Muhammad Makin Amin
- Roudhotusssolihah
- Nabilatun Nisa
- Elis Wahyuni


3. Kementerian Luar Negeri (KEMENLU)
- Gus Ahmad Rifangi (Koordinator)
- Rahman Agil Nurzaman
- Eka Prasetya
- Bela Rahayuningtiyas
- Mutiara Fahmi


4. Kementerian Sosial (KEMENSOS)
- Ahmad najib Mu’alim (Koordinator)
- Abdul Hamid Al Qosamah
- Muhammad Fahmi Kamal
- abdullah Safik burhan Dani
- Andhini Argiliana Arum purnami
- Marsya Maharani Yusuf


5. Kementerian Komunikasi & Informasi (KOMINFO)


- Adib Irmanzah (Koordinator)
- Khoirul Hamdani
- Muhamad Hisyam Abdillah
- Rizki Oktavian Zaki
- Cyah Mae Purwaningsih
- Shahira Hisma Meinida


6. Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasantri (ADKESMA)
- Laduni Chadid Ahmad
- Ehab Fuady Fitrianto
- Muhamad Syibli NU’mani
- Syifa Sabrina Amalia
- Khumairoh


Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalsitik.com



